<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5771673991113315900</id><updated>2012-02-16T20:35:19.293-08:00</updated><title type='text'>budaya simalungun</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>budaya simalungun</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11647446082989296374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5771673991113315900.post-1366627233388617761</id><published>2011-03-11T01:10:00.001-08:00</published><updated>2011-03-11T01:10:52.889-08:00</updated><title type='text'>Pakaian Adat Simalungun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama seperti suku-suku lain di sekitar daerah simalungun, &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1299834582_0" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;pakaian adat&lt;/span&gt; suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulos&lt;/span&gt; (disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Uis&lt;/span&gt; di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulos&lt;/span&gt; yang disebut &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Hiou&lt;/span&gt; dengan berbagai ornamennya.&lt;/div&gt;&lt;div class="yiv397054081fullpost" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ulos  pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan"  yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya  istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian  penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan  bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada  ikat kepala, kain dan ulosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara legenda ulos dianggap  sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan  Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman  karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak  dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak,  Simalungun memiliki kebiasaan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mambere hiou"&lt;/span&gt; (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1299834582_1" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;kasih sayang&lt;/span&gt;  kepada penerima Hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk,  sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan  bagian atas, penutup punggung dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiou dalam berbagai  bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda,  misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;suri-suri,&lt;/span&gt; Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ragipanei&lt;/span&gt;, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;jabit&lt;/span&gt;. Hiou dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tolu sahundulan&lt;/span&gt;, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Gotong&lt;/span&gt; (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Gotong Porsa&lt;/span&gt;),  namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga  menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari  bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah,  kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk  Tengkuluk Batik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5771673991113315900-1366627233388617761?l=budaya-simalungun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/feeds/1366627233388617761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/pakaian-adat-simalungun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/1366627233388617761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/1366627233388617761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/pakaian-adat-simalungun.html' title='Pakaian Adat Simalungun'/><author><name>budaya simalungun</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11647446082989296374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5771673991113315900.post-955088027674877456</id><published>2011-03-11T01:07:00.001-08:00</published><updated>2011-03-11T01:07:55.813-08:00</updated><title type='text'>Bahasa Simalungun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa Simalungun atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sahap Simalungun&lt;/span&gt;  (dalam bahasa Simalungun) adalah bahasa yang digunakan oleh suku  Simalungun yang mendiami Kabupaten Simalungun, Serdang Bedagai, Deli  Serdang, Dairi, Medan, hingga ke Tapanuli di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-weight: bold;"&gt;Klasifikasi Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian  P. Voorhoeve (seorang ahli bahasa Belanda, pernah menjabat sebagai  taalambtenaar Simalungun tahun 1937) menyatakan bahwa bahasa Simalungun  merupakan bagian dari rumpun &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1299834406_0"&gt;Austronesia&lt;/span&gt; yang lebih dekat dengan bahasa Sansekerta yang mempengaruhi banyak bahasa daerah lain di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan ini ditunjukkan dengan huruf penutup suku mati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "Uy" dalam kata babuy dan apuy.&lt;br /&gt;2. "G" dalam kata dolog.&lt;br /&gt;3. "B" dalam kata abab.&lt;br /&gt;4. "D" dalam kata bagod.&lt;br /&gt;5. "Ah" dalam kata babah atau sabah.&lt;br /&gt;6. "Ei" dalam kata simbei.&lt;br /&gt;7. "Ou" dalam kata lopou atau sopou.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan  umum mengkategorikan Bahasa Simalungun sebagai bagian dari Bahasa  Batak, namun Uli Kozok (filolog) mengatakan bahwa secara sejarah bahasa  ini merupakan cabang dari rumpun selatan yang berbeda/terpisah dari  bahasa-bahasa Batak Selatan sebelum terbentuknya bahasa Toba atau &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1299834406_1"&gt;Mandailing&lt;/span&gt;.  Beberapa kata dalam Bahasa Simalungun memang memiliki persamaan dengan  bahasa Toba atau Karo yang ada di sekitar wilayah tinggalnya suku  Simalungun, namun Pdt. Djaulung Wismar Saragih menerangkan bahwa ada  banyak kata yang penulisannya sama dalam bahasa Simalungun dan Toba  namun memiliki makna yang berlainan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-weight: bold;"&gt;Dialek dan Ragam Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henry Guntur Tarigan membedakan dialek bahasa Simalungun ke dalam 4 macam dialek:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Silimakuta.&lt;br /&gt;2. Raya.&lt;br /&gt;3. Topi Pasir (Horisan).&lt;br /&gt;4. Jahe-jahe (pesisir pantai timur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-weight: bold;"&gt;Aksara&lt;/span&gt; yang digunakan suku Simalungun disebut aksara &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Surat Sisapuluhsiah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5771673991113315900-955088027674877456?l=budaya-simalungun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/feeds/955088027674877456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/bahasa-simalungun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/955088027674877456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/955088027674877456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/bahasa-simalungun.html' title='Bahasa Simalungun'/><author><name>budaya simalungun</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11647446082989296374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5771673991113315900.post-4562572847668249679</id><published>2011-03-11T01:02:00.000-08:00</published><updated>2011-03-11T01:02:02.475-08:00</updated><title type='text'>PARTUTURAN HALAK SIMALUNGUN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Partuturan&lt;/span&gt; adalah cara suku Simalungun menentukan perkerabatan atau keteraturan yang merupakan bagian dari hubungan keluarga (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pardihadihaon)&lt;/span&gt; dalam kehidupan sosialnya sehari-hari terutama dalam acara adat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost" style="color: #000099; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Asal-usul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Awalnya orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hasusuran&lt;/span&gt;” (tempat asal nenek moyang) dan "t&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ibalni parhundul&lt;/span&gt;" (kedudukan/peran) dalam "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;horja-horja adat&lt;/span&gt;"  (acara-acara adat). Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan yang diajukan  oleh seorang Simalungun di saat orang mereka saling bertemu, dimana  bukan langsung bertanya “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aha marga ni ham?&lt;/span&gt;” (apa marga anda) tetapi “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hunja do hasusuran ni ham&lt;/span&gt; (dari mana asal-usul anda)?" Hal ini dipertegas lagi oleh pepatah Simalungun “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei&lt;/span&gt;” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Sebagian  sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga  raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh  karena konsep perkawinan antara raja dengan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;puang bolon&lt;/span&gt;”  (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh  Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar  yang p&lt;span style="font-style: italic;"&gt;uang bolonnya &lt;/span&gt;dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Partuanan&lt;/span&gt;  Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri  Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri  Raja Raya atau Tongging.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Setelah marga-marga dalam suku Simalungun semakin membaur, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;partuturan&lt;/span&gt; semakin ditentukan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;partongah-jabuan&lt;/span&gt; (pernikahan), yang mengakibatkan pembentukan hubungan perkerabatan antara keluarga-keluarga Simalungun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost" style="color: #000099; font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Kategori partuturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Partuturan dalam suku Simalungun di bagi ke dalam 3 kategori menurut kedekatan hubungan seseorang, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #ffcc33; font-size: 130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost" style="color: #ffcc33; font-size: 130%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tutur manorus (langsung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ompung&lt;/span&gt;: orangtua ayah atau ibu, saudara (kakak/adik) dari orangtua ayah atau ibu&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bapa/Amang&lt;/span&gt;: ayah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inang&lt;/span&gt;: ibu&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abang&lt;/span&gt;: saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anggi&lt;/span&gt;: adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Botou&lt;/span&gt;: saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amboru&lt;/span&gt;:  saudara perempuan ayah; saudara perempuan pariban ayah; saudara  perempuan Mangkela. Bagi wanita: orangtua dari suami kita; amboru dari  suami kita; atau mertua dari saudara ipar perempuan kita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mangkela&lt;/span&gt;: suami dari saudara perempuan dari ayah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tulang&lt;/span&gt;: saudara lelaki ibu; saudara lelaki pariban ibu; ayah dari besan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anturang&lt;/span&gt;: istri dari tulang; ibu dari besan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Parmaen&lt;/span&gt;:  istri dari anak; istri dari keponakan; anak perempuan dari saudara  perempuan istri; amboru dan mangkela kita memanggil istri kita parmaen&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasibesan&lt;/span&gt;: istri dari saudara (Ipar) lelaki dari istri kita atau saudara istri kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hela&lt;/span&gt;: suami dari puteri kita; suami dari puteri dari kakak/adik kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gawe&lt;/span&gt;i: hubungan wanita dengan istri saudara lelakinya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lawei&lt;/span&gt;:  hubungan laki-laki dengan suami dari saudara perempuannya; panggilan  laki-laki terhadap putera amboru; hubungan laki-laki dengan suami dari  puteri amboru (botoubanua).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Botoubanua&lt;/span&gt;: puteri amboru; bagi wanita: putera tulang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pahompu&lt;/span&gt;: cucu; anak dari botoubanua; anak pariban&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    Nono&lt;/span&gt;: pahompu dari anak (lelaki)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nini&lt;/span&gt;: cucu dari boru&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sima-sima&lt;/span&gt;: anak dari Nono/Nini&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siminik&lt;/span&gt;: cucu dari Nono/Nini&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost" style="color: #ffcc66; font-size: 130%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tutur holmouan (kelompok)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ompung Nini&lt;/span&gt;: ayah dari ompung&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ompung Martinodohon&lt;/span&gt;: saudara (kakak/adik) dengan ompung&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ompung Doli&lt;/span&gt;: ayah kandung dari ayah, kalau nenek perempuan disebut inang tutua&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bapa Tua&lt;/span&gt;: saudara lelaki paling tua dari ayah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bapa Godang&lt;/span&gt;: saudara lelaki yang lebih tua dari ayah, di beberapa tempat biasa juga disebut bapa tua&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inang Godang&lt;/span&gt;: istri dari bapa godang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bapa Tongah&lt;/span&gt;: saudara lelaki ayah yang lahir dipertengahan (bukan paling tua, bukan paling muda)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inang Tongah&lt;/span&gt;: istri dari bapa tongah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bapa Gian / Bapa Anggi&lt;/span&gt;: saudara lelaki ayah yang lahir paling belakang&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inang Gian / Inang Anggi&lt;/span&gt;: istri dari bapa gian/Anggi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sanina / Sapanganonkon&lt;/span&gt;: saudara satu ayah/ibu&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pariban&lt;/span&gt;: sebutan bagi orang yang dapat kita jadikan pasangan (suami atau istri) atau adik/kakaknya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tondong Bolon&lt;/span&gt;: pambuatan (orang tua atau saudara laki dari istri/suami) kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tondong Pamupus&lt;/span&gt;: pambuatan ayah kandung kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tondong Mata ni Ari&lt;/span&gt;: pambuatan ompung kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tondong Mangihut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anakborujabu&lt;/span&gt;: sebagai pimpinan dari semua boru, anakborujabu dituakan karena bertanggung jawab pada tiap acara suka/duka Cita.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panogolan&lt;/span&gt;: anak laki/perempuan dari saudara perempuan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Boru Ampuan&lt;/span&gt;: hela kandung yang menikahi anak perempuan kandung kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anakborumintori&lt;/span&gt;: istri/suami dari panogolan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anakborumangihut&lt;/span&gt;: lawei dari botou&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Anakborusanina&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost" style="color: #ffcc66; font-size: 130%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tutur natipak (kehormatan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;Tutur natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaha&lt;/span&gt;:  digunakan pada istri dari saudara laki-laki yang lebih tua. Bagi  wanita, kaha digunakan untuk memanggil suami boru dari kakak ibu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasikaha&lt;/span&gt;: digunakan istri kita untuk memanggil saudara laki kita yang lebih tua&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasianggiku&lt;/span&gt;: untuk memanggil istri dari adik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anggi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ham&lt;/span&gt;:  digunakan pada orang yang membesarkan/memelihara kita (orang tua) atau  pada orang yang seumur yang belum diketahui hubungannya dengan kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Handian&lt;/span&gt;: serupa penggunaannya dengan ham, tapi memiliki arti yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dosan&lt;/span&gt;: digunakan tetua terhadap sesama tetua&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anaha&lt;/span&gt;: digunakan tetua terhadap anak muda laki&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kakak&lt;/span&gt;: digunakan anak perempuan kepada saudara lakinya yang lebih tua&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ambia&lt;/span&gt;: Panggilan seorang laki terhadap laki lain yang seumuran&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ho&lt;/span&gt;:  panggilan bagi orang yang sudah akrab (sakkan) atau pada orang yang  derajadnya lebih rendah, kadang digunakan oleh suami pada istrinya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hanima&lt;/span&gt;: sebutan untuk istri (kasar) atau pada orang yang berderajad lebih rendah dari kita (jamak, lebih dari seorang)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasiam&lt;/span&gt;: sebutan untuk yang secara kekerabatan berderajad di atas (jamak, lebih dari seorang)&lt;/span&gt;&lt;span id="yiv469603941formatbar_Buttons" style="display: block;"&gt;&lt;span class="yiv469603941on yiv469603941down" id="yiv469603941formatbar_Bold" style="display: block;" title="Tebal"&gt;&lt;img alt="Tebal" border="0" class="yiv469603941gl_bold" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akkora&lt;/span&gt;: sebutan orang tua bagi anak perempuan yang dekat hubungan kekerabatannya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abang&lt;/span&gt;: panggilan pada saudara laki yang lebih tua atau yang berderajad lebih dari kita&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tuan&lt;/span&gt;: dulu digunakan untuk memanggil pemimpin huta (kampung), atau pada keturunan Raja&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sibursok&lt;/span&gt;: sebutan bagi anak laki yang baru lahir&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sitatap&lt;/span&gt;: sebutan bagi anak perempuan yang baru lahir&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awalan Pan/Pang&lt;/span&gt;: sebutan bagi seorang &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1299834012_0" style="border-bottom: 2px dotted rgb(54, 99, 136); cursor: pointer;"&gt;Laki&lt;/span&gt; yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Ucok, maka Ayahnya disebut pan-Ucok/pang-Ucok.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="yiv469603941fullpost"&gt;    &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Awalan Nang/Nan&lt;/span&gt;: sebutan bagi seorang perempuan yang sudah memiliki anak, misal anaknya Ucok, maka ibunya disebut nan-Ucok/nang-Ucok.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5771673991113315900-4562572847668249679?l=budaya-simalungun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/feeds/4562572847668249679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/partuturan-halak-simalungun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/4562572847668249679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5771673991113315900/posts/default/4562572847668249679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://budaya-simalungun.blogspot.com/2011/03/partuturan-halak-simalungun.html' title='PARTUTURAN HALAK SIMALUNGUN'/><author><name>budaya simalungun</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11647446082989296374</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
